Berita

Prediksi Astronomis Visibilitas (Kenampakan) Hilal Awal Ramadan 1436 H/2015 M

diposting oleh Administrator | Kamis, 11 Juni 2015 | 10:06:48 | dibaca 4224

Judhistira Aria Utama, M.Si.

Laboratorium Bumi dan Antariksa

Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

PIC Simpul UPI, Konsorsium Pengamatan Hilal Nasional

 

Konjungsi/ijtimak atau lebih dikenal sebagai fase Bulan baru (new moon) yang akan menandai berakhirnya bulan Syaban 1436 H, terjadi setelah Matahari terbenam pada Selasa tanggal 16 Juni 2015 pukul 21:06 WIB (= 22:06 WITA, 23:06 WIT) yang akan datang. Karena di seluruh wilayah Indonesia konjungsi terjadi setelah terbenamnya Matahari –di Jakarta Matahari terbenam pada 17:46 WIB– malam itu juga masih dihitung tanggal 30 Syaban 1436 H. Berhubung usia bulan dalam kalender Hijriyah tidak mungkin lebih singkat dari 28 hari dan tidak mungkin pula lebih panjang dari 30 hari, maka setelah Matahari terbenam pada Rabu 17 Juni, otomatis sudah masuk tanggal 1 Ramadan 1436 H (pergantian hari dalam kalender Hijriyah terjadi setelah Matahari terbenam). Dalam hal demikian ini, kegiatan observasi atau pengamatan hilal pada Selasa 16 Juni dari seluruh wilayah Indonesia tidak akan berhasil mengesani sosok hilal karena pada saat Matahari terbenam fase Bulan baru belumlah terjadi. Sementara itu, kegiatan serupa pada Rabu 17 Juni tidak lagi dalam posisi yang menentukan. Hilal didefinisikan sebagai Bulan sabit yang dapat diamati pertama kali, baik menggunakan mata telanjang (naked eye) atau berbantuan alat seperti binokular maupun teleskop, setelah Matahari terbenam. Menurut definisi di atas jelas adanya bahwa hanya Bulan sabit pascakonjungsilah yang kemunculannya terjadi tidak lama setelah Matahari terbenam di lokasi pengamat berada.

 

Bagaimana dengan situasi di Saudi Arabia? Di Saudi Arabia yang secara geografis terletak lebih barat daripada kawasan Indonesia, konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam waktu setempat. Meskipun demikian, pascakonjungsi pada Selasa 16 Juni, di Saudi Arabia Bulan terbenam sekitar 9 menit mendahului terbenamnya Matahari. Menggunakan model matematis visibilitas/kenampakan untuk objek-objek langit yang berada di dekat Matahari, telah diperoleh prediksi visibilitas hilal awal Ramadan 1436 H/2015 M. Prediksi diberikan untuk visibilitas hilal pada hari Selasa–Rabu, 16–17 Juni 2015 (30 Syaban–1 Ramadan 1436 H), untuk lokasi pengamat di kota Mekah, Saudi Arabia (Gambar 1) dalam modus pengamatan dengan mata telanjang. Prediksi diberikan pula untuk beberapa lokasi di Indonesia khusus pada hari Rabu 17 Juni, juga dengan modus pengamatan mata telanjang (Gambar 2). Dalam perhitungan yang dilakukan, diasumsikan kondisi atmosfer setempat bersih (minim aerosol dan polutan) dengan pengaturan toposentrik (pengamat berada di permukaan Bumi) dan memperhitungkan faktor pembiasan oleh atmosfer. Prediksi yang dihasilkan ditampilkan dalam bentuk grafik visibilitas (sumbu tegak) terhadap waktu (sumbu mendatar). Bila fungsi visibilitas bernilai positif, berarti kecerahan hilal pada saat tersebut telah melampaui kecerahan langit senja, yang dimaknai bahwa hilal berpeluang untuk dapat diamati selama kondisi cuaca mendukung. Sebaliknya, manakala fungsi visibilitas bernilai negatif, hal ini berarti hilal lebih redup dibandingkan kecerahan langit senja sehingga membuatnya tidak akan dapat diamati. Grafik-grafik tersebut ditampilkan berikut ini.  

Gambar 1. Visibilitas hilal pada hari terjadinya konjungsi dan keesokan harinya untuk lokasi pengamat di Mekah, Saudi Arabia.   

Dari posisi pengamat di Mekah, konjungsi terjadi sekitar 2 jam sebelum Matahari terbenam waktu setempat. Bila pengamatan dengan mata telanjang dilakukan segera setelah konjungsi (Selasa, 16 Juni 2015), kecerahan langit saat itu masih akan sangat mendominasi kecerahan Bulan. Bahkan kontras terbaik yang ditandai dengan nilai visibilitas maksimum masih bernilai negatif, yang bertepatan dengan 30 menit menjelang terbenamnya Matahari (kurva berwarna merah dalam Gambar 1). Sembilan menit sebelum Matahari terbenam di kota Mekah, Bulan justru sudah terbenam lebih dulu. Pada pengamatan keesokan harinya (Rabu, 17 Juni 2015), terdapat jendela waktu selama sekitar 30 menit untuk dapat mengesani sosok hilal, yaitu pada saat nilai visibilitas bertanda positif; dimulai 12 menit setelah Matahari terbenam hingga 42 menit kemudian (kurva berwarna hijau dalam Gambar 1). Tentu saja apapun hasil dari kegiatan pengamatan pada Rabu 17 Juni nanti tidak lagi dalam posisi yang menentukan tibanya awal Ramadan. Pergantian dari bulan Syaban menuju Ramadan 1436 H pada tahun ini terjadi setelah Matahari terbenam pada 17 Juni terlepas dari berhasil–tidaknya para pengamat mengesani sosok hilal

 

Prediksi visibilitas hilal untuk lokasi pengamat di beberapa kota di Indonesia turut pula diberikan. Kota-kota tersebut adalah Biak (mewakili kawasan timur Indonesia), Kupang (mewakili kawasan tengah Indonesia), dan Bandung serta Lhok Nga (keduanya mewakili kawasan barat Indonesia). Melalui Gambar 2 terlihat bahwa dari keempat kota di Indonesia, visibilitas hilal awal Ramadan bernilai positif setelah 5 hingga 10 menit pascaterbenamnya Matahari. Pengamat di Bandung berkesempatan untuk dapat mengesani sosok hilal lebih awal daripada pengamat di tiga lokasi lainnya. Setelah masing-masing kurva mencapai puncak yang merupakan nilai visibilitas maksimumnya, seluruh kurva kembali menurun. Pengurangan nilai visibilitas setelah melalui momen puncak terjadi karena posisi hilal yang juga terus bertambah rendah sebelum akhirnya terbenam di ufuk barat. Meski tidak lagi dalam posisi yang krusial secara hukum, pengamatan hilal pada Rabu 17 Juni 2015 tetap memiliki nilai penting. Seandainya berhasil mengamati hilal pada hari tersebut, catatan pengamatan yang dihasilkan akan menambah jumlah data dalam pangkalan data keberhasilan mengamati hilal yang dapat menjadi batasan (constraint) dalam merumuskan kriteria visibilitas hilal empirik.         

Gambar 2. Visibilitas hilal untuk beberapa kota di Indonesia dalam pengamatan dengan modus mata telanjang.
 
Keputusan bilakah jatuhnya tanggal 1 Ramadan 1436 baru akan ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Agama dalam sidang yang dipimpin oleh menteri agama yang dilakukan pada 29 Syaban 1436 H (Selasa, 16 Juni 2015) setelah menghimpun dan mempertimbangkan hasil-hasil hisab (perhitungan model matematis) dan rukyat (pengamatan) serta saran dan pendapat dari para peserta sidang yang terdiri atas ulama, perwakilan organisasi Islam, anggota Tim Hisab Rukyat (THR), dan perwakilan negara–negara sahabat. Selama ini Pemerintah RI melalui Kementerian Agama menganut kriteria imkan rukyat (kriteria yang mengakomodasi metode hisab dan rukyat sekaligus), yang memiliki klausul:

“pada saat Matahari terbenam ketinggian minimal Bulan dari cakrawala sebesar 20 dan elongasi antara Bulan dan Matahari minimal 30 atau umur Bulan sejak konjungsi setidaknya 8 jam

Dengan demikian, sangat mungkin keputusan yang akan dihasilkan menetapkan tanggal 1 Ramadan 1436 H jatuh pada Rabu 17 Juni 2015 setelah Matahari terbenam mengingat pada Selasa 16 Juni 2015 parameter fisis Bulan saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia tidak ada yang melampaui nilai-nilai minimal tersebut di atas (konjungsi belum terjadi saat Matahari terbenam pada hari itu). Dengan demikian, umat Islam Indonesia akan mengawali ibadah sunnah salat Tarawih pada Rabu malam (17 Juni 2015) dan menjalankan puasa Ramadan tahun ini pada keesokan harinya, Kamis 18 Juni 2015.


Kontak korespondensi: j.aria.utama@upi.edu, judhistira@yahoo.com, HP. 0811 222 4036